Beberapa bulan belakangan ini aku menjadi sering gelisah. Seringkali
mencoba agar diri ini menjadi lebih tenang tapi semua sia sia, tak ada yang
bertahan lama. Aku sadar, aku mulai merasakan kehilangan sosok yang
selama ini ku jadikan sandaran. Entah kenapa dia berubah begitu saja.
Sulit untuk percaya itu, aku pun menjadi lebih emosional, dia pun
bingung. Dan masih kuingat Jumat itu aku bicara baik baik dengannya, ku
ungkapkan apa penyebab gelisahku dan ia berkata, sudah lega kan
unek-uneknya di keluarin? sekarang sudah ngerti kenapa sering gitu. Dan kami pun seperti
biasa kembali, kuingat di akhir pesanku, aku bilang sekarang semua
gimana dia, secara tidak langsung aku bicara jika lanjut aku hanya minta diberi kepastian tentang hatinya. 2
hari berlalu dan ia kembali tak ada kabar. Inikah yang kamu sebut
dengan menjagaku? seperti yang kau katakan di awal pertemuan kita. Oh
mungkin kamu lupa, tapi aku tidak. Dan apaa kau tahu bagaimana aku merasa kehilangan saat ini? baiklah aku akan mencoba sedikit menjabarkan
rasa itu.
Semenjak kau pergi aku menjadi lebih peka pada ponselku. Berharap yang ku terima adalah pesan darimu, memang melelahkan tapi itu yang ku lakukan. Bahkan kerap kali aku membuka akun sosmed mu sekedar ingin tahu adakah cerita yang kau bagikan disana?, aku pun membuka whatsapp mu yang kini kau sembunyikan privacy last seen. Sedih?? Iya, karna hanya dari sana aku tau sedang apa dirimu? apakah kau sedang sibuk atau tidak.. Dan kini hari libur yang biasanya kau jadikan untuk menelfon ku pun kini tak ada lagi, tak ada panggilan masuk yang membuatku kebingungan untuk bicara apa :). Jika rindu akupun hanya melihat foto kita, dan segera ku tutup foto-foto itu, karna itu hanya menyisakan kesedihan di hati ini.
Jika memang sudah sampai disini, aku akan belajar untuk menerima dan ikhlas. Karna aku sadar perasaan tidak bisa dipaksakan. Satu pintaku jangan datang kembali dan memberi harapan seakan kau akan tetap menjagaku dan berada di sampingku.
Untukmu yang sedang dalam proses “menjaga” dan berharap tuk senantiasa dalam penjagaan-NYA, semoga Allah senantiasa meneguhkan dan memberikan kesiapan semuanya dalam menghadapi waktu yang tepat menurut-NYA, sehingga indah pada saatnya..^^
Selasa, 29 Agustus 2017
Senin, 28 Agustus 2017
Masih Bolehkah Aku Mengharapkanmu?
Apakah definisi cinta hampir selalu memiliki ritme yang
sama? Apakah Tuhan telah menggariskan perjalanan cinta setiap orang dengan
kisah yang hampir serupa? Atau, apakah hanya aku yang menamai ini cinta, sedang
yang ada hanya aku yang berjuang, bagiku kamu tidak sama sekali. Menyesakkan.
Aku tahu ini sia-sia –tetapi mungkin hanya pendapatku saja-.
Dan parahnya, aku tak mampu menghentikan perasaan yang ku sebut bak gayung
bersambut namun menjadi bertepuk sebelah tangan. Sering aku tiba-tiba merasa paling
putus asa, namun kemudian aku pada semangat yang lain muncul seketika. Bahwa
cinta memang harus diperjuangkan bagaimanapun sulitnya, batin semangatku waktu
itu.
Namun apa? Bagiku ini sakit berkepanjangan, kamu yang
membuatku berharap sejauh ini. Kalau kamu tegas sejak awal perasaanku tumbuh,
aku akan mundur teratur. Namun kamu sendiri yang mengizinkanku dekat denganmu
waktu itu. Saat ini –yang perlu kamu tahu, bahkan aku berharap kamu membaca
tulisan ini-, melupakanmu adalah hal yang paling konyol buatku. Kata-kata “Maaf
aku terlalu berharap” atau “maaf sudah mengganggumu” adalah bukan aku sama
sekali. Aku tak dibesarkan menjadi pengecut, bahkan sampai pada titik paling
miris ini, di mana perasaan adalah kumpulan hari-hari yang rentan, dan rindu
jadi kamu yang makin kelabu.
Semingguan ini aku menjadi lebih peka dengan ponselku.
Sekali bunyi, aku selalu berharap itu pesanmu. Aku tahu, ini melelahkan. Namun
entahlah, aku menjadi sosok paling semangat menunggu satu responmu, apa saja.
Kalau aku ingat-ingat, kejadian ini acap kali berulang, dan malangnya aku
selalu gagal mengambil pelajaran. Waktu itu ketika aku benar-benar sadar bahwa
bukan kamu sebaiknya orang yang harus ku harapkan, bahwa hanya aku yang selalu
memperjuangkanmu, tiba-tiba pagi-pagi sekali asumsiku buyar menguap tanpa sisa
setelah kamu datang dengan hanya lewat pesan singkatmu. “Maaf kotak nasinya
lupa belum dikembalikan, mau diisi apa?”, wahai perasaan, apakah ia lahir
selalu berseberangan dengan kata bernama logika. Aku berjingkrak-jingkrak
senang bukan main waktu itu. Ingin ku umumkan pada dunia bahwa akulah seorang
beruntung itu. Aku lupa, lupa sama sekali dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya
ketika aku harus berlama-lama menunggu pesan singkat lewat ponsel yang
kuharapkan darimu, bahkan aku lupa dengan masa di mana aku kehilangan semangat
mengharapkanmu.
Siapa yang salah? Kamu yang tidak peka sama sekali atau aku
yang terlalu berharap?
Baiklah, ada baiknya kali ini aku mengalah, namun aku tak
pernah merasa kalah.
Senin, 07 Agustus 2017
Antara Ketidakadilan dan Keikhlasan
Belakangan
ini aku merasa diperlakaukan tidak adil*. Hatiku berontak. Air mataku
selalu mengembang di kelopak mata, bila mengingat hal itu.
Aku ingin menggugat ketidak adilan ini. Bukankah adil adalah salah satu asma muliaNya yang harus ditegakkan?
Apa yang kau rasakan, diperlakukan tidak adil oleh orang orang seperti mereka.. Sudah memberontak tapi apa daya aku pun di acuhkan. Hanya bersabar dan belajar ikhlas.
Berada di sebuah tempat yang mewah tidak akan menjadikanmu menjadi orang yang mewah, kadang ketidakadilan lah yang membuatmu sadar kalau kamu bukan dari bagian dari rumah mewah tersebut.
Sekarang aku harus belajar ikhlas, bukankah
apa yang kita kerjakan sekarang tidak harus berbuah di dunia. Namun
terus terang ‘untuk satu hal ini’ aku merasa sulit untuk ikhlas.
Repost by : https://idasw.wordpress.com/
Senin, 16 Januari 2017
Kau Yang Membuatku Nyaman

Hai kamu, iyah kamu .. :(
Kamu yang berhasil membuatku nyaman ...
Kamu yang selalu membuatku tertawa dengan emoji dan semua hal yang kamu ceritakan ...
Kamu yang selalu membuat perasaanku tak karuan ...
Aku mengenalmu mungkin belum terlalu lama.. Yaa 8 bulan kiranya terlalu singkat bagiku, waktu terasa begitu cepat saat aku sudah mengenalmu. Hariku menjadi lebih berwarna :)
Saat itu kita bertemu disuatu ruang yang biasa digunakan untuk makan siang, kita duduk berhadapan. Berawal dari sekedar basa-basi untuk menghilangkan rasa gugup antara karyawan baru dan lama, kamu bertanya banyak. Jujur aku tak terlalu menanggapi pertanyaanmu saat itu. Aku hanya merasa gugup dan ingin cepat pergi untuk menyelesaikan makasn siangku.
Tak ada yang aneh saat itu .. semua berjalan biasa saja .. tak ada perasaan apapun. Hingga akhirnya kaupun menemaniku untuk berjalan menikmati indahnya Bandung di malam hari.
Entah ini takdir atau apa, yang jelas Allah telah mengabulkan doaku.. Aku berada dan merasakan seperti yang saat ini aku rasakan merupakan salah satu doaku, begitu juga denganmu :)
Bagiku hal yang menyenangkan mendengarkan suaramu saat kau bercerita..
Hei ! kamu berhasil membuatku merasa nyaman di dekatmu. Kamu berhasil membuatku menyukaimu.
Aku menyukaimu dengan segala apa yang ada pada dirimu. Aku menyukaimu dengan semua kesederhanaanmu.
Aku suka kamu dengan apa adanya kamu. Kamu dengan kemeja, jeans biru dan sepatu kets. Gayamu yang cuek tapi terlihat dewasa dan selalu mencoba untuk memahamiku. Kamu dengan segala tingkahmu yang selalu membuatku ketawa, aku suka.. Walaupun bagimu hal tersebut tidaklah lucu
Iyaa ... aku suka kamu ..
Tak peduli apapun itu .. kenyataannya kini hanya kamu yang mampu membuatku nyaman ..
Ya .. kau yang membuatku merasa nyaman aku tak ingin berada jauh darimu ..
Langganan:
Komentar (Atom)

